Jumat, 16 April 2010

Yogyakarta dan Barometer Cerita Pendek Indonesia


oleh Joni Ariadinata

Saat ini, memasuki milenium ke tiga, di saat negara-negara tetangga kita (Malaysia, Singapura, Pilipina, dan kemudian menyusul Cina serta India) sudah mulai mensejajarkan diri di panggung global; Indonesia justru terpuruk dan kehilangan kesejarahannya. Kita tetap meyakini sebagai bangsa yang luhur, halus, berbudi pekerti dan sopan santun; tapi kekerasan dan kebrutalan (teror, pembunuhan, penjarahan) adalah fakta yang menghancurkan harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia, kini lebih dikenal sebagai salah satu negara terbelakang yang kasar dan primitif.

Tingkat korupsi, moral para politisi, pejabat negara, aturan hukum, nyaris semuanya terpuruk. Ada lompatan besar kebudayaan yang salah, yang harus dibayar mahal, dan membutuhkan waktu satu generasi untuk memperbaikinya; yakni budaya tulis (dan baca). Kita telanjur melompat dari budaya lisan menuju audio-visual.

Sistematika peradaban di manapun, pada negara-negara yang kuat dan maju, mau tidak mau harus melewati 3 tahapan kebudayaan, yakni: (1) budaya lisan, (2) budaya tulis (dan baca), dan (3) audio-visual. Pada tahapan ke-2 itulah, kesusastraan memegang kunci sebagai gerbang untuk mengenal bacaan, mengenal sistematika tulisan, dan merangsang daya fikir untuk bertanya. Membaca dan menulis, dipercaya sebagai rangkaian kesatuan yang mutlak dibutuhkan sebagai basis ilmu pengetahuan. Daya serap bacaan, serta kemampuan merangkaikan logika dalam tulisan, merupakan salah satu indikator kuatnya sumber daya manusia dalam sebuah negara. Maka adalah layak jika kesusastraan mendapatkan tempat yang cukup terhormat di banyak negara-negara maju. Dan kita, Indonesia, yang mendapatkan diri sebagai bangsa yang sangat rendah daya bacanya; telah berani melompat jauh menembus budaya audio-visual yang sungguh miskin analisis. Tanpa basis baca-tulis yang kuat, lewat budaya audio-visual; kita hanya akan dididik menjadi sebuah generasi pemakan yang sungguh tidak akan berdaya menghadapi serbuan konsumerisme yang tanpa batas. Tentu, untuk memperbaikinya, sekali lagi butuh waktu yang tidak pendek, dan juga tidak gampang.

Kemungkinan Baru

Cerita pendek, adalah salah satu genre sastra di samping puisi dan novel. Dilihat dari segi pertumbuhan (produktivitas) dan perkembangannya, secara umum karya-karya sastra Indonesia memperlihatkan fenomena yang sangat luar biasa. Banyak muncul karya-karya yang menawarkan kemungkinan baru baik dari segi eksplorasi bahasa, penjelajahan tema dan keberanian bereksperimentasi, serta tumbuhnya sastrawan-sastrawan muda potensial yang penuh wawasan estetik dan gagasan kreatif.

Tapi kenyataan di atas terus-menerus berbanding terbalik; antara pertumbuhan dan perkembangan yang penuh gairah, dengan tidak adanya respons setimpal dari pihak-pihak yang diharapkan. Dari segi pembaca, ia masih membutuhkan mediator yang secara terus-menerus harus berupaya memberi kepercayaan dan keyakinan tentang betapa pentingnya kesusastraan untuk kepentingan bangsa. Dari segi media, ia masih membutuhkan tampungan yang memadai untuk berbagai eksplorasi karya.

Cerita pendek Indonesia, sebagai genre termuda dibandingkan puisi dan novel; memperlihatkan karakteristik dan perkembangannya sendiri yang sangat khas dibandingkan cerita pendek yang berkembang di negara-negara lain. Cerita pendek di Indonesia, mulai dikenal pada awal-awal tahun 1910-an, lewat kisah-kisah pendek yang ditulis M. Kasim dan Suman Hs. Genre ini kedudukannya semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang, dimana pemerintahan Jepang pada waktu itu, -- dengan tujuan politis -- memberikan banyak fasilitas bagi penyebaran cerita pendek lewat koran Asia Raja dan Djawa Baroe. Setelah runtuh pemerintahan Jepang, pada era tahun 50-an hingga 60-an lahirlah majalah-majalah yang khusus memuat cerita pendek, yakni majalah Tjerpen, Prosa, dan Kisah.

Berbagai eksplorasi cerita pendek bermunculan dengan sangat pesat, hingga kemudian muncul majalah Horison pada tahun 66, dan mengukuhkan sederet nama penulis cerita pendek Indonesia yang sangat berwibawa.

Pada era 70-an, hingga sekarang memasuki abad ke 21; pertumbuhan cerita pendek semakin kokoh dan diperhitungkan keberadaannya. Pada era ini pulalah, cerita pendek Indonesia menunjukkan fenomena yang sangat spesifik. Nyaris seluruh media di Indonesia, dari mulai koran, tabloid, majalah, serta jurnal, menyisipkan cerita pendek sebagai bagian yang cukup penting -- hal yang tidak terjadi di negara lain. Tentu, produktivitas (kuantitas) penulisan cerita pendek yang begitu melimpah-ruah ini, akan menjadi bumerang dari segi kualitas. Bagaimanapun, karya sastra tetap memiliki seperangkat teori dan hukum-hukum tersendiri yang dapat menentukan apakah karya itu memiliki bobot dan kualitas sebagai karya sastra.

Dari sisi inilah, ide Yayasan Cerita Pendek Indonesia digulirkan di Yogyakarta -- kota yang merupakan salah satu barometer kebudayaan. Beberapa penulis cerita pendek, akademisi, kritikus sastra, dan didukung 2 penerbit besar, telah sama-sama berkumpul satu meja dan merumuskan sebuah wadah yang memungkinkan menjadi mediator bagi pertumbuhan cerita pendek yang sehat. Dengan tujuan ikut merentangkan jembatan ke arah keseimbangan dan kemajuan perkembangan cerita pendek Indonesia secara khusus, dan secara umum ikut memberikan kontribusi ke arah penguatan daya baca lewat gerbang kesusastraan.

Salah satu bentuk dari gerakan ini yang telah terwujud, adalah dengan diterbitkannya Jurnal Cerpen Indonesia, yang telah diluncurkan beberapa bulan yang lalu. Tentu, bantuan dan dukungan dari semua pihak, akan memuluskan tujuan ini. Indonesia, adalah sebuah negara dengan wilayah yang sangat-sangat besar; yang menuntut semua sisi untuk bergabung, berfikir, dan terutama: berbuat. (q-k)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar